Next Post

Kepemimpinan Sejati di DJP: Eks Pegawai Pajak Bicara Soal Integritas, Keniscayaan Perubahan, dan Filsafat Rezeki

Fiskusmagnews.com – Analisis. Setelah mengabdi selama tiga dekade di lingkungan yang menuntut integritas tinggi seperti Direktorat Jenderal Pajak (DJP), seorang mantan pegawainya membagikan pandangan filosofis mengenai reformasi, keberanian moral, dan rezeki. Pernyataannya bukan sekadar pengakuan, melainkan cetak biru mentalitas yang dibutuhkan dalam menghadapi kompleksitas birokrasi.
Inti dari pesannya adalah: “Pemimpin bukan mereka yang menunggu arah, tapi yang menciptakan arah. Bukan yang menuntut perubahan, tapi yang berani berubah lebih dulu. Karena kepemimpinan sejati lahir dari teladan — bukan perintah.”

Membawa Beban 30 Tahun Kebenaran
Mantan pejabat ini mengakui bahwa pengalaman puluhan tahun telah memberinya pandangan yang sangat luas mengenai dinamika di dalam institusi. Ia tidak gentar jika suatu hari diminta memberikan klarifikasi oleh pihak berwenang.
“Selama 30 tahun bekerja, begitu banyak informasi, dinamika, dan pengalaman yang masuk ke kepala ini,” ungkapnya, mengisyaratkan bahwa kebenaran yang ia pegang memiliki dimensi yang sangat luas dan panjang.
Sikapnya terhadap kejujuran dipertaruhkan dengan taruhan yang tinggi, yaitu melibatkan banyak pihak. “Apa yang saya tahu tidak berhenti pada satu atau dua nama saja — karena pengalaman puluhan tahun itu menyentuh begitu banyak lini dan begitu banyak orang.”
Ia memilih untuk tetap tegak lurus, menempatkan integritasnya sebagai penjaga ‘merah putih’, menjauhkan niat untuk menjatuhkan, namun memegang prinsip bahwa kebenaran harus diungkap demi kepentingan yang lebih besar.

Rezeki dan Keberanian Spiritual
Salah satu pesan terkuat yang ia sampaikan adalah tentang keberanian untuk keluar dari zona nyaman — atau bahkan dari pekerjaan— demi menjaga prinsip. Ini adalah pesan penting dalam konteks di mana jabatan publik seringkali dilihat sebagai satu-satunya sumber keamanan finansial.
“Jangan pernah takut kalau suatu hari harus keluar dari sebuah pekerjaan—termasuk dari kantor pajak,” tegasnya.
Ia menegaskan filsafat rezeki yang spiritualistik: “Rezeki itu tidak datang dari kantor, tidak datang dari jabatan, dan tidak datang dari manusia. Rezeki datang dari Tuhan.”
Pesan ini berfungsi sebagai benteng mental, mengingatkan bahwa integritas tidak akan pernah membuat seseorang jatuh miskin, selama ia tetap bekerja jujur. “Selama tangan kita bersih dan hati kita ikhlas, pintu rezeki akan terbuka dari arah yang tidak pernah kita duga.”

Change Begins With Me: Inspirasi dari Rhenald Kasali dan Umar bin Khattab
Komitmen sumber ini terhadap perubahan telah berakar sejak 2005, terinspirasi oleh dua tokoh yang berbeda zaman dan latar belakang: Prof. Rhenald Kasali melalui buku “Change!” dan Umar bin Khattab.
* Rhenald Kasali memberinya pemahaman tentang keniscayaan perubahan, perlunya berani keluar dari zona nyaman, dan memimpin perubahan daripada menunggu.
* Umar bin Khattab mengajarkan tentang ketegasan moral dan integritas yang tak boleh ditawar dalam setiap amanah publik.
Filosofi tersebut termanifestasi dalam pesan yang ia pegang teguh: “Change begins with me.” Ia berdialog langsung dengan Prof. Rhenald, yang mengingatkannya untuk “tetaplah konsisten menjaga integritas dan profesionalisme, apa pun atmosfer yang terjadi di DJP.”
Pernyataan ini bukan hanya tentang masa lalu, melainkan tentang masa depan reformasi DJP. Perubahan, menurutnya, mungkin membutuhkan waktu, tetapi akan tiba “selama ada orang-orang yang tetap menjaganya dari dalam.” Ini adalah seruan agar profesionalisme dan integritas tidak dijadikan pilihan musiman, melainkan nilai fundamental yang dipegang teguh oleh setiap individu dalam institusi.

Reporter: Marshanda Gita

fiskusma

Related posts