Next Post

🇮🇩 Logika Pertumbuhan 8% dan Peran Strategis AICEco: Memetakan Ekonomi Bawah Tanah dengan Kecerdasan Buatan

Oleh: Dr. Joko Ismuhadi*)

Diskusi yang dilontarkan oleh tokoh perumus ekonomi seperti Burhanuddin Abdullah (yang akrab disapa “Asgar”) mengenai target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 8 persen menjadi perbincangan yang sangat vital. Beliau dengan tegas memaparkan bahwa logika ekonomi konvensional—yang mengandalkan Foreign Direct Investment (FDI) dan utang luar negeri—paling-paling hanya akan menghasilkan pertumbuhan 5 persen.

Lalu, dari mana sisa 3 persen yang menentukan lompatan ekonomi tersebut?

Jawaban yang diungkapkan sangatlah menarik dan strategis: dari Ekonomi Bawah Tanah (Underground Economy).
Ekonomi yang melibatkan korupsi, ekspor-impor ilegal, under invoicing, narkoba, hingga judi online, ditaksir memiliki nilai yang fantastis, mencapai lebih dari seribu triliun rupiah setiap tahun. Komitmen pemerintah untuk memerangi dan memformalkan aliran dana ini adalah sebuah jalan baru yang visioner. Ini bukan hanya masalah penegakan hukum, tetapi juga masalah filosofi pertumbuhan, yang secara implisit memerlukan keseimbangan antara intervensi terbatas negara dan pasar bebas, seperti yang diwacanakan oleh pemikiran Von Hayek.

Menerjemahkan Komitmen ke Dalam Angka

Keputusan untuk menjadikan perang terhadap ekonomi underground sebagai sumber pertumbuhan adalah langkah pertama yang berani. Namun, ambisi ini akan menjadi utopia jika tidak didukung oleh instrumen yang tepat. Bagaimana kita dapat “mencari sungguh-sungguh” sumber dana dari aktivitas ilegal yang sifatnya tersembunyi, non-tunai, dan tidak tercatat?
Inti dari masalah ekonomi bawah tanah adalah ketidakpatuhan (non-compliance)—yaitu adanya perbedaan signifikan antara data akuntansi yang dilaporkan (legal) dengan realitas transaksi ekonomi yang sesungguhnya (ilegal/informal).

Untuk itulah, diperlukan sistem cerdas yang mampu bekerja secara presisi dan masif untuk memetakan dan mengukur ketidaksesuaian ini. Solusinya terletak pada teknologi yang saya gagas: AICEco (Artificial Intelligence Compliance Ecosystem).

AICEco: Senjata Canggih Melawan Ketidakpatuhan

AICEco merupakan platform kepatuhan berbasis kecerdasan buatan yang dirancang khusus untuk mengidentifikasi dan mengkuantifikasi anomali dalam sistem keuangan dan perpajakan. Pilar utama dari sistem ini adalah Persamaan Ismuhadi (Ismuhadi Equation – IE).

🎯 Persamaan Ismuhadi (IE)
Persamaan Ismuhadi (IE) adalah model utama dalam AICEco yang berfungsi untuk:
* Mengidentifikasi Ketidaksesuaian: IE secara matematis mengukur seberapa jauh perbedaan antara data akuntansi formal dan realitas ekonomi riil.
* Menargetkan Underground Economy: IE memberikan bobot analitis pada pola-pola transaksi yang paling mungkin merepresentasikan aktivitas ekonomi bawah tanah (seperti pencucian uang, under invoicing, atau transfer dana masif yang tidak terlaporkan).
Jika ekonomi bawah tanah bernilai Rp 1.000 triliun, maka IE adalah alat ukur yang paling valid dan real-time untuk memverifikasi, mengunci, dan memformalkan potensi tersebut menjadi basis penerimaan negara dan pertumbuhan. Tanpa alat ukur yang presisi ini, “perang underground” hanya akan menjadi retorika kebijakan yang sulit dieksekusi.

⚙️ Komponen Pendukung
AICEco juga diperkuat oleh komponen lain untuk memastikan formalisasi berjalan komprehensif, yaitu:
* Tax Accounting Equation (TAE): Memastikan bahwa dana yang terdeteksi segera dikaitkan dengan dasar pengenaan pajak yang akurat.
* Mathematical Accounting Equation (MAE): Menjaga keseimbangan antara variabel ekonomi dan fiskal selama proses formalisasi, sehingga disiplin fiskal tetap terjaga sesuai dengan semangat yang diharapkan.

Sintesis: Logika Baru yang Realistis

Keberhasilan mencapai pertumbuhan 8 persen tidak dapat dipisahkan dari upaya serius untuk membawa ekonomi bawah tanah ke permukaan. Strategi ini memerlukan dua hal: Komitmen Politik Kuat (seperti yang diyakini oleh Burhanuddin Abdullah) dan Metodologi Teknologi yang Mutakhir.

Perpaduan antara kebijakan yang berani (fokus pada underground economy) dan teknologi AICEco yang didukung oleh Persamaan Ismuhadi inilah yang membuat target 8 persen menjadi realistis dan memiliki logika ekonomi yang kuat. Dengan AI, kita mengubah perburuan sumber daya yang samar menjadi operasi identifikasi dan kuantifikasi yang terukur.

Ekonom ke depan tidak hanya akan mencatat perang underground sebagai jalan baru pertumbuhan, tetapi juga akan mencatat peran krusial kecerdasan buatan sebagai penentu utama dalam memenangkan perang tersebut.

Sumber: https://disway.id/read/909867/asgar-underground

*)penulis merupakan seorang akademisi anggota utama Perkumpulan Tax Center dan Akademisi Pajak Seluruh Indonesia (Pertapsi), Perkumpulan Ahli Hukum Indonesia (Perkahi), praktisi pemeriksa pajak berpengalaman dengan latar belakang pendidikan program diploma keuangan spesialisasi perpajakan dengan pendidikan terakhir sebagai kandidat doktor bidang akuntansi perpajakan dan doktor bidang hukum perpajakan.

Disclaimer: pendapat diatas merupakan pendapat pribadi penulis terlepas dari institusi penulis bekerja.

fiskusma

Related posts